Fenomena Ujian Nasional

10:28

Sebelumnya penulis memohon maaf sebesar-besarnya jikalau ada kata-kata yang menyinggung segenap jajaran Pendidikan di Tanah Air, karena ini untuk membuka mata kita semua tentang persoalan-persoalan yang di hadapi oleh tenaga pendidik dan akibatnya bagi siswa di seluruh Tanah Air kita yang tercinta ini.


Ujian Nasional atau yang popular dengan sebutan EBTANAS atau UNAS atau UAN atau UN itu sebenarnya program apa? Dari beberapa berita yang pernah kita baca atau sekedar kita dengar, UN merupakan progam penyeleksi para siswa yang akan meninggalkan sebuah jenjang sekolah (SD, SMP/MTsn, SMA/SLTA/MAN) yang telah dijalankan oleh para siswa/siswi, juga dijadikan sebagai pantauan untuk melihat kualitas pendidikan di seluruh Tanah Air. Kurang lebih seperti itulah yang pernah penulis baca sebelumnya.

Jika memang begitu tujuan pemerintah kita, apakah kita tidak heran jika banyak sekolah (apalagi yang bukan sekolah favorit) yang kelulusan siswanya mencapai hingga 100%? Sedangkan yang katanya UN pada saat sedang di jalankan selalu di jaga ketat, bahkan pada penjagaan soalnya selalu di bantu oleh para personik kepolisian. Apakah peserta didik kita itu jenius semua atau bagaimana???

Memang hal ini tak dapat dijadikan pokok permasalahan untuk UN yang bersistem 2 paket (A dan B), karena para siswa masih dapat mencontek dengan tenang tanpa sepengetahuan pengawas. Namun bagaimana dengan UN yang jelas-jelas bersistem 5 paket (A, B, C, D, dan E )seperti UN yang belum lama ini (Tahun 2011). Menjadi pertanyaan besar bukan pabila ada sekolah yang tingkat kelulusannya mencapai 100%? Toh kita semua tahu bagaimana bandelnya para siswa-siswi sekarang yang banyak kasus  yang pernah dilakukan para siswa (seperti bolos, tukang merokok, dll) yang pernah masuk dalam media massa? Jangan munafik deh, toh yang saya tulis ini benar bukan? Lagian saya juga pernah bersekolah pada setiap jenjang pendidikan.

Penulis merupakan alumni siswa SLTA tahun ajaran 2007/2010. Pada saat itu masih bersistem 2 paket soal (A dan B). Yang sangat penulis herankan ‘koq’ pengawas ujiannya membiarkan para muridnya menyontek, bahkan hingga bersikap acuh tak acuh pada gerak-gerik siswa yang notabene dapat diketahui hanya dengan sekali lihat. Dan pada Tahun 2011 ini, saya ada dengar-dengar dari para siswa yang melaksanakan UN tahun 2011, mereka telah mendapatkan jawaban stengah jam sebelum soal ujian dibagikan. Ini sangat membuat hati saya menangis. Bagaimana tidak, baru usia dini sudah mulai di ajarkan korupsi dalam tingkat menengah. Ya, ini sudah tingkat menengah karena apabila ketahuan para guru dapat dijebloskan ke dalam penjara.

Jadi dalam hakikatnya saya menulis tulisan ini bukan untuk membuka aib kita sendiri, tapi ini agar para pemerintah dapat membuka mata mereka bahwa UN itu tidaklah efektif di Indonesia ini. Karena pada hakikatnya semua sekolah itu tak mau menanggung malu apabila ada siswanya yang berprestasi tidak Lulus dalam UN. Karena UN sekarang kelulusannya ditentukan dari bagus atau tidaknya bulatan yang di buat dalam lembar jawaban dan dari kerapian siswa dalam menjaga LJK-nya.

Satu lagi jadi pertanyaan kita (mohon maaf untu)k kata2 saya pada bagian ini), sebenarnya dari mana Guru kita mendapatkan jawaban UN tersebut? Sudah barang tentu untuk menjaga marwah sekolah, apapun dilakukan oleh para guru untuk menjaganya, dan dinas jawaban juga tak akan bertahan rahasianya apabila di bayar mahal bukan?

Nah, oleh karenanya saya berharap para pemerintah sebaiknya biarlah para guru bekerja dalam hal pendidikan serta penentuan kelulusan siswa, karena gurulah yang telah memantau perkembangan para siswa selama bertahun-tahun, pastinya guru juga tahu mana yang berhak diluluskan dan mana yang tidak. Jangan ciptakan lagi Gayus-gayus dan Nazaruddin-Nazaruddin untuk stok para koruptor penerus di masa depan. Jangan lagi ada yang namanya KKN di Indonesia ini. Amin.
Previous
Next Post »